6 Tips Gaya Kepemimpinan Startup

Rupanya apa yang Anda pelajari di universitas ternama, seperti Harvard, belum tentu tepat bila diaplikasikan saat memimpin suatu startup. Anda perlu menyesuaikannya sesuai dengan lingkungan kerja. Dengan narasumber CEO Color Me Leah Ashley dan Profesor Babson College Allan Cohen yang merupakan alumni MBA dan DBA Harvard, berikut ini enam tips gaya kepemimpinan yang bisa diterapkan untuk startup Anda:

1. Lebih mementingkan ide baru untuk peningkatan pelayanan ke konsumen daripada sibuk berkompetisi

Pemimpin seharusnya memberi inspirasi ke rekan-rekannya. Namun, apa yang Ashley lakukan ketika memberi inspirasi ke rekan-rekannya dikarenakan sumber inspirasinya datang dari konsumen.
Menurut Ashley, dia membiarkan dirinya dipimpin oleh konsumen, lewat grup, survei, dan masukan. Dari situ, dia menyampaikan ke rekan kerjanya. “Konsumen ingin kita untuk membuat mereka merasa yakin dapat menggunakan make up Color Me, bisa lebih meringkas waktu, membuat mereka lebih cantik, dan bisa bertahan lama,” ujar dia.
Di sisi lain, Allen Cohen mengatakan ada hal yang lebih luas dan bisa ditangkap dari konsumen. Menurut dia, inspirasi dari konsumen perlu disusun berdasarkan tingkat kepentingannya, cocok atau tidak dengan kebutuhan pasar, lalu bagaimana kemampuan perusahaan untuk mengeksekusinya.
Dia membenarkan pernyataan ide yang baik tidak akan berarti apa-apa bila tidak bisa dieksekusi. Namun, hal ini justru terlihat meremehkan. Kesimpulan yang Ashley ambil, seolah-olah bisa dieksekusi. Hal ini cukup baik tapi belum tentu mudah digeneralisasikan.

2. Visi bagus, tapi hasil lebih penting

Pemimpin itu harus memiliki visi. Tapi visi akan jadi berlebihan bila 99% keberhasilan harus dilakukan dengan kedisplinan. Ashley mengatakan banyak orang yang mengatakan pemimpin harus berpikir visioner. Tapi, itu semua tentang hasil dan bagaimana eksekusinya.
Apa yang Ashley lakukan untuk mencapai hasil yang diinginkan yakni dengan fokus pada angka, mulai dari berapa jumlah wanita yang memakai makeup, berapa banyak titik distribusi untuk pemasaran produk, butuh dana berapa untuk merancang dan mendistribusikan produk baru, dan seberapa besar skala bisnis yang dibutuhkan untuk capai seluruh hal tersebut.

3. Low tech mungkin baik dari high tech

Belum tentu bisnis yang berteknologi tinggi pasti sukses karena menyasar orang-orang yang memiliki mobilitas tinggi dan selalu menggenggam smartphone kemanapun mereka berada. Ashley memegang prinsip bahwa komunikasi terbaik itu harus tatap muka.
Kini sudah banyak sekali alat-alat berteknologi tinggi yang memungkinkan proses tatap muka, tapi belum tentu teknologi lainnya bisa membantu. Menurut dia, email sekalipun sangat mudah diabaikan apabila di inbox banyak email yang terbaca.
“Komunikasi langsung adalah yang terbaik. Co-founder kami selalu berada di jalan, dan saya merasa terbaik ketika menghubungi orang lewat Skype atau Facetime.”

4. Mendengar lebih baik dari berbicara

Harvard mengajarkan ilmu ini. Konsep ini memiliki ide advokasi dan penyelidikan, menyiratkan bahwa seorang pemimpin harus terlibat langsung dan mengajukan pertanyaan demi memastikan orang membeli produk itu.
Ashley belajar lebih dari proses mendengar. “Saya menanyakan ke rekan kerja dan mendengarkan apa yang mereka ucapkan dan tidak diucapkan.”

5. Anda tidak bisa melakukan semuanya sendiri

Dalam HBS, membangun tim startup adalah hal yang diajarkan di sekolah. Kuncinya Anda mencari tahu semua keterampilan yang dibutuhkan dalam perusahaan startup untuk menjadi sukses dan memastikan tim founder unggul di dalamnya.
Untuk Color Me, keterampilan yang utama adalah inovasi produk dan mengelola operasional. “Saya dan Eric saling melengkapi satu sama lain. Sebagai makeup professional, Eric mengerti apa yang wanita inginkan dalam aplikasi makeup dan mengembangkan cara terbaik untuk melakukannya. Saya memiliki kemampuan membentuk kemitraan dan mengelola operasi bisnis.”

6. Kepemimpinan akan lebih kompleks seiring tumbuhnya startup

Bagi Ashley, hal ini mengenai bagaimana cara orang memperlakukan dan diperlakukan orang lain. Dia memperlakukan timnya dengan penuh hormat. Sebab dia menyadari bakat dan prestasi mereka. “Saya pun berterima kasih kepada mereka karena hal itu.”
Cohen mengantisipasi gaya kepemimpinan Ashley seiring dengan berkembangnya bisnis ColorMe. Menurut dia, dalam fase awal startup komunikasinya lebih banyak dilakukan dengan tatap muka dan di dalam ruangan kecil. Namun, dalam organisasi yang besar komunikasi sangat mudah terdistorsi, grup mulai menjadi terpencar karena perbedaan tujuan dan agenda, kemudian orang akan kehilangan visi dan strategi.
Axact

MRIZKY

Hanya Seorang Penuntut Ilmu, yang ingin mengetahui ilmu tentang SOSMED, Internet Marketing, SEO, STARTUP dan Teknologi terkini, Kami membaca dari berbagai sumber, kemudian kami tulis ulang di blog ini. Kami mohon maaf jika ada yang tidak dicantumkan sumber aslinya, mungkin hanya kelalaian penulis semata, Semoga penulis pertama akan mendapatkan pahala..aamiin

Post A Comment:

0 comments: