Zaman sekarang dengan teknologi makin canggih ternyata membawa dampak positif, bahkan hingga ke karier. Termasuk, jadi sukses tanpa kuliah tetapi bisa berkarier di perusahaan keren.

Jika dulu sukses tanpa kuliah biasanya hanya bisa terjadi jika membangun usaha sendiri, sekarang gak perlu begitu. Tanpa ijazah kuliah pun, ternyata cukup banyak orang yang bisa berkarier.


Apalagi dengan menjamurnya start-up alias perusahaan rintisan yang mana punya syarat yang lebih fleksibel. Anak-anak muda berikut ini jadi contoh nyata mereka bisa bersaing dengan para sarjana.

Ada yang kini bekerja sebagai designer grafis, ada yang berhasil jadi manajer, bahkan ada yang udah merintis perusahaan sendiri di Singapura.

Ketiga anak muda tersebut layak jadi inspirasi buat kamu yang mengalami halangan yang sama ataupun butuh motivasi!

Lantas, apa sih tips mereka dan gimana mereka memulai karier di bidang masing-masing, bahkan meski cuma lulusan SMA? Yuk, simak liputan MoneySmart bersama anak-anak muda keren berikut ini:

1. Keadaan bukan halangan 

Ketiga anak muda tersebut adalah Yohanes Kus Handaya yang akrab disapa Joe. Kini pria dengan pendidikan terakhir di SMA Negeri 87 Jakarta tersebut bekerja di perusahaan multinasional, The Bramble Company.

Ada juga Indri Solihin atau yang kerap disapa Ihin. Pria asal Bandung kelahiran 1992 itu kini bekerja sebagai graphic designer di MoneySmart Indonesia.

Lalu, Ardy Satria Hasanuddin yang dulunya harus pindah dari Timor Leste saat provinsi tersebut memilih berpisah dari Indonesia.

Masing-masing dari mereka punya latar belakang cukup mirip. Misalnya, Ihin berasal dari keluarga petani di mana orangtuanya kurang mampu untuk menyekolahkan mereka hingga jenjang kuliah.

Sementara itu, Ardy terpaksa harus pindah dari Timor Leste bersama keluarga dan memulai dari nol.

Baca juga: Berbisnis di Bidang Percintaan, 3 Anak Muda Ini Sukses Berat

2. Mau bekerja apa aja 

Latar belakang yang udah disebutkan tadi memaksa mereka harus bisa bekerja apa aja. Perlu diakui, tanpa ijazah sarjana, tentu sulit buat dapat pekerjaan bergengsi.

“Setelah lulus SMA di Jakarta tahun 2004, saya memutuskan untuk tidak ikut ujian masuk perguruan tinggi negeri karena takut tidak bisa membayar uang pangkal jika lolos seleksi, dan akhirnya memutuskan bekerja dulu karena tidak ada biaya untuk kuliah,” kata Ardy.

“Saya pertama kali bekerja di tempat saudara mama saya di sebuah toko komputer di Jakarta Barat selama tiga setengah tahun sebagai teknisi sekaligus penjaga toko, menyapu, membersihkan toko dan lain-lain,” sambung pria berdarah Makassar itu.

Senada, Ihin pun demikian. Desainer grafis yang banyak belajar secara otodidak tersebut memaparkan kisahnya.

“Di OSIS saya sering mengerjakan kebutuhan-kebutuhan untuk event yang salah satunya harus mendesain proposal, banner acara, dan lain-lain,” ungkap Ihin.

“Akhirnya saya bisa mengumpulkan portofolio desain yang saya pakai untuk melamar ke salah satu percetakan yang ada di Bandung. Saya belajar lebih banyak lagi mengenai desain di sana,” sambungnya.

Joe memiliki background pekerjaan yang bahkan jauh dari bidang kerjanya sekarang.

“Awal karier sebagai customer service semacam tempat digital print dan foto copy ternama di Jakarta. Gaji kurang lebih 1 juta per bulan,” tandasnya.

Baca juga: Pernah Jadi Sales Hingga Awak Kapal! 3 Pengusaha Ini Sukses Jadi Duta Besar

3. Belajar otodidak atau lingkungan 

Dari kisah mereka tersebut, kita bisa belajar bahwa halangan yang mereka miliki bikin mereka mencari cara sendiri buat belajar.

Yap! Belajar gak harus selalu dari bangku kuliah, anak muda ini malah berhasil dengan cara otodidak, dan belajar dari lingkungan mereka. Ihin mengakui, dia banyak belajar dari tempat kerja pertamanya.

“Berpindah dari satu tempat ke tempat lain sebagai desainer dengan tujuan untuk belajar hal baru,” paparnya.

Sementara itu, Ardy yang kini menekuni bidang web developing awalnya belajar tentang komputer terlebih dahulu dari buku.

“Saya tidak tahu apa-apa mengenai komputer, di situlah saya belajar pertama kali merakit komputer kemudian step by step belajar dalam troubleshooting komputer dengan melihat dan membaca buku mengenai fungsi-fungsi dari setiap part computer,” kata Ardy menuturkan kisahnya.

Lebih lanjut, Joe memaparkan, dia belajar banyak dari lingkungan pertemanannya.

“Sempat otodidak dan bantuan dari teman baik untuk mengenal SEO (Search Engine Optimization, optimasi mesin pencari) dan kemudian memberanikan diri melamar ke berbagai perusahaan sebagai junior SEO,” tandasnya.

4. Jangan minder 

Ada hal yang menarik dari ketiga anak muda tersebut. Baik Joe, Ihin, dan Ardy sama-sama gak mau pasrah dengan keadaan mereka. Sukses tanpa kuliah pun akhirnya bukan jadi hal mustahil.

“Terus belajar, gak usah minder, dan harus bisa nunjukin kamu juga bisa dan gak kalah sama yang lain,” imbuh Ihin memberikan tips suksesnya.

Senada dengan Ihih, Ardy menceritakan, saat berhasil masuk ke beberapa start-up ternama seperti Groupon, PegiPegi, dan Mbiz, dia banyak mengikuti training dan sertifikasi, bahkan dengan uang sendiri.

“Walau saya tidak punya ijazah tapi saya ingin membuktikan bahwa saya bisa lebih baik dari orang lain yang memiliki pendidikan tinggi. Saya pun banyak mengikuti berbagai training dan sertifikasi internasional,” tutur Ardy.

“Jangan takut untuk bertanya pada orang yang dinilai lebih mengerti. Yang paling penting adalah self-motivation untuk maju, terlepas dari semua hal yang menghambat langkah kalian,” jelas Joe.

5. Berani bermimpi dan bikin rencana 

Berani bermimpi besar disertai dengan rencana matang, ketiga anak muda tersebut bisa dibilang berhasil sukses tanpa kuliah.

Meski tanpa ijazah kuliah, mereka ternyata bisa menapaki karier selangkah demi selangkah. Gak cuma berhasil masuk ke perusahaan-perusahaan impian mereka, bahkan mereka bisa menggapai jenjang karier yang patut diperhitungkan.

Seperti yang udah disinggung di awal. Ketiga anak muda tersebut meski gak berbekal ijazah mampu bersaing dengan sarjana. Mereka mendapatkan posisi strategis di perusahaan mereka kini bekerja.

Ardy selepas bekerja dari beberapa startup, kini hijrah ke Singapura buat memulai startup miliknya. Dari CTO Lyke di Indonesia, kini dia jadi Co-Founder Hirerobin.ai.

Ardy menuturkan, selain membesarkan start-up tersebut, dia bakal melanjutkan kuliahnya. Sukses terus ya!

Joe yang menekuni bidang digital marketing kini bekerja di perusahaan furnitur multinasional bernama The Bramble Company. Di samping itu, dia pun mulai membangun startup-nya sendiri yaitu KabarGames dan perusahaan digital agency bernama Amicis.

Sementara Ihin, merupakan salah satu pegawai MoneySmart Indonesia yang diterima tanpa ijazah kuliah. Kini dia mengerjakan desain-desain buat konten MoneySmart.

Bahkan, dia mengakui punya basic desain yang masih terbatas sebelum diterima di MoneySmart. Beruntunglah dia karena diberi kesempatan mengikuti berbagai training desain grafis, dan video di perusahaannya sekarang.

Wah! Kisah ketiga anak muda ini benar-benar memberikan pelajaran bahwa siapa aja bisa punya kesempatan sukses. Yang terpenting adalah gimana kita mau memanfaatkan kesempatan tersebut.

Percayalah di zaman serba digital sekarang ini, cukup banyak pula perusahaan yang udah mulai gak cuma melirik ijazah tetapi juga skill kamu. Karena itu, jangan minder bila kamu misalnya gak punya kesempatan buat kuliah.

“Bermimpilah setinggi mungkin tapi kalian juga harus punya rencana, tekad dan keinginan kuat untuk bekerja keras meraih impian kalian,” tutup Ardy saat ditanya apa tips agar sukses tanpa kuliah.
Axact

MRIZKY

Hanya Seorang Penuntut Ilmu, yang ingin mengetahui ilmu tentang SOSMED, Internet Marketing, SEO, STARTUP dan Teknologi terkini, Kami membaca dari berbagai sumber, kemudian kami tulis ulang di blog ini. Kami mohon maaf jika ada yang tidak dicantumkan sumber aslinya, mungkin hanya kelalaian penulis semata, Semoga penulis pertama akan mendapatkan pahala..aamiin

Post A Comment:

0 comments: