Kisah heorik atas kesuksesan Mark Zuckerberg dengan Facebook, atau Steve Jobs yang berhasil membawa produk Apple disukai banyak orang di dunia nampaknya menjadi inspirasi berarti untuk kaum muda, tak terkecuali di Indonesia. Awal kisah kesuksesan perusahaan besar tersebut diawali dari level startup. Mereka mengawali bisnisnya di garasi hingga menjadikannya perusahaan yang berpengaruh di dunia.

Motivasi tersebut kian diyakinkan oleh suksesnya startup lokal yang berhasil membesarkan bisnisnya, sama, dimulai dari nol. Pemain seperti Go-Jek, Tokopedia, Traveloka dan beberapa lainnya sudah sangat akrab di telinga masyarakat. Para pemuda pun mulai berbondong merintis karier di bisnis tersebut, sebagian lagi optimis ingin menjadi seperti pemain besar tersebut dengan startup besutannya. Semua sektor mulai dijamah, tak hanya on-demand dan e-commerce, melainkan sudah sampai yang lebih spesifik, seperti yang baru-baru ini mulai ramai, yakni car advertising.

Yang menjadi menarik untuk disimak, apakah hingar-bingar perkembangan startup ini hanya dirasakan oleh kita yang berkecimpung di dalamnya, atau generasi sebelum kita pun sudah mulai aware dan tertarik terhadap bisnis startup. Memang masih cukup baru, istilah startup sendiri dikenal sekitar tahun 2000an, kala itu startup digunakan sebagai istilah transformasi dari UKM. Pembedanya adalah startup merujuk pada bisnis rintisan yang mampu beradaptasi secara cepat, dan umumnya menggunakan cara modern (dalam hal ini banyak diinisiasikan dengan digitalisasi).
Untuk mengetahui tentang hal tersebut, DailySocial mencoba melakukan riset sederhana dengan menanyakan kepada beberapa mahasiswa (khususnya di bidang teknologi informasi), mencoba mengamati perspektifnya dan sejauh mana mereka tahu tentang startup.

Apa yang mereka ketahui tentang startup?

Dari 11 mahasiswa yang kami beri pertanyaan tentang startup, 2 di antaranya belum pernah sama sekali mendengar istilah startup. Kendati sudah sering menggunakan layanan seperti Bukalapak atau memainkan game-game dari pengembang lokal seperti Tahu Bulat, Masih ada yang belum mengetahui dan memahami bahwa di balik pengembangan layanan/produk tersebut ada sebuah tim solid disebut startup. Secara kasat mata startup digital memang berkembang sangat pesat, dan mampu berbaur dengan bisnis besar yang sudah berjalan.
Salah satunya diungkapkan oleh Rohman Nur Haqiqi, seorang mahasiswa Teknik Informatika di Yogyakarta. Ia menyampaikan, “Tertarik dengan startup, ilmu di dalamnya mampu membuka wawasan mengenai berbagai bisnis, seperti marketplace, tugas CEO, analisis bisnis dan strategi untuk memberikan layanan yang memudahkan dalam mengatasi permasalahan masyarakat dengan menggunakan aplikasi.”

Apa yang membuat startup menarik bagi mereka?

Sebagian besar yang sudah memahami tentang startup beranggapan bahwa bisnis digital yang banyak diusung saat ini adalah prospektif ke depan. Dampak yang diberikan juga luas, seperti kesempatan kerja yang makin banyak, hingga inspirasi untuk mengembangkan bisnis serupa oleh para mahasiswa. Menurut Lubna Mahdania, seorang mahasiswa jurusan Mobile Application & Technology, ia begitu tertarik dengan startup digital karena memiliki potensi mendunia. Ia paham tentang kaburnya batas persaingan dalam persaingan bisnis digital.
Dari 11 mahasiswa yang menjadi obyek wawancara kami, 6 di antaranya ingin bergabung dengan startup setelah lulus untuk mendapatkan pembelajaran di dalamnya. Sisanya memilih untuk membangun bisnis sendiri dan bekerja di perusahaan besar ketika lulus nanti.
“Jika bergabung ke dalam startup, baik yang sudah mapan maupun yang masih dirintis, saya yakin bisa belajar banyak di sana, dan nantinya menjadi modal saya untuk merintis startup saya sendiri. Karena startup fokus dengan produk, saya ingin membantu orang lain dengan produk dari startup saya nantinya,” ujar Faradillah Nurul Hikmah, seorang mahasiswi jurusan Manajemen Informatika.
Besarnya pengaruh bisnis dan produk yang dikembangkan startup digital saat ini di Indonesia ternyata memang banyak mengubah pandangan kaum muda terhadap kewirausahaan digital. Sangat senada jika berbagai komponen bangsa, baik itu regulator, pengusaha dan berbagai pihak terus mendorong pertumbuhan bisnis digital untuk menggerakkan roda ekonomi nasional.

Startup dan penerimaan masyarakat

Masuknya teknologi digital dan startup di Indonesia masih membutuhkan penyesuaian. Tidak hanya untuk pasar, ekosistem dan infrastruktur teknologi saja, tetapi juga penerimaan masyarakat. Jika mendengar banyak cerita dari mahasiswa, dilema bergabung dengan startup tidak hanya dari segi kemampuan, tetapi juga pandangan keluarga. Lebih mentereng bekerja di perusahaan yang memiliki nama dibanding bersama-sama merintis atau mendirikan dari nol sebuah bisnis.
Jika para pelaku e-commerce pada awalnya kesulitan meyakinkan para ibu-ibu untuk bertransaksi secara online mungkin di dalamnya, para karyawan fresh graduate sedang berupaya meyakinkan keluarga mereka apa yang sedang ia kerjakan. “Setidaknya mencari pengalaman” mungkin adalah alasan yang paling sering muncul. Ya karena tidak semua mahasiswa berasal dari kota dan keluarga yang up to date.
Dengan banyaknya startup yang sudah dikenal seperti Go-Jek, Tokopedia, dan Bukalapak ditambah dengan banyaknya acara-acara berbau bisnis digital yang menyambangi universitas-universitas harapannya semakin banyak solusi yang dihasilkan dari permasalahan-permasalahan yang ada saat ini. Masih jauh memang jika berharap Indonesia seperti Silicon Valley, tetapi tidak ada salahnya untuk bermimpi, tidak ada salahnya untuk berjuang.
Axact

MRIZKY

Hanya Seorang Penuntut Ilmu, yang ingin mengetahui ilmu tentang SOSMED, Internet Marketing, SEO, STARTUP dan Teknologi terkini, Kami membaca dari berbagai sumber, kemudian kami tulis ulang di blog ini. Kami mohon maaf jika ada yang tidak dicantumkan sumber aslinya, mungkin hanya kelalaian penulis semata, Semoga penulis pertama akan mendapatkan pahala..aamiin

Post A Comment:

0 comments: