Dewasa ini industri e-commerce di Indonesia, perlahan tapi pasti, bergerak menjadi tren baru di masyarakat. Ini tak lepas dari ekosistem e-commerce Indonesia itu sendiri yang semakin matang  dan juga inovasi yang dihadirkan para pelakunya. Dalam workshop CSIS dan Kemenlu, Executive Director Lippo Group John Riady, CEO Tokopedia William Tanuwijaya, dan Marketing Director Intel Rini F Hasbi mendiskusikan mengenai seberapa jauh tren e-commerce ini berkembang dengan segala bumbu yang ada di dalamnya.


Industri kreatif kini telah menjelma menjadi sebuah kekayaan baru bagi suatu negara dan yang paling dilirik adalah sektor teknologi digital. Di Indonesia, sudah banyak pelaku yang bermain di sektor ini dengan berbagai produknya, mulai dari jasa transportasi, direktori Point of Interest, hingga yang paling bergairah adalah e-commerce. John Riady sendiri percaya bahwa suatu hari nanti hampir semua aspek akan beralih ke online dan kebanyakan adalah bisnis commerce.

Pun demikian, tak ada yang benar-benar menyangka bahwa potensinya akan menjadi sebesar sekarang ini pada beberapa tahun silam. William, sebagai salah satu pioneer di bisnis e-commerce, juga menuturkan bahwa ketika pertama kali memulai dia pun tak menduga e-commerce akan menjadi sebesar sekarang.

William mengatakan, “Sejujurnya saya tidak tahu [potensi pasar e-commerce menjadi sebesar sekarang]. Kami datang dari latar belakang yang tidak tahu apa-apa tentang bisnis […] yang ingin kami pecahkan saat itu adalah masalah kepercayaan jual beli online.”

“Di Indonesia saat itu [ketika Tokopedia baru memulai], masyarakat masih takut untuk jual beli online. […] Kami fokus untuk membangun kepercayaan, yang membuat orang asing di Sumatra dapat [percaya] membeli [barang] dari orang asing di Kalimantan,” tambah William.

Dengan inovasi yang dihadirkan investasi Tokopedia untuk membangun kepercayaan, telah membawa mereka sebagai startup Asia Tenggara pertama yang memecahkan rekor investasi. Dan dari sana, keraguan akan investasi di bisnis teknologi mulai runtuh secara perlahan. Kini, Tokopedia masih tetap berada di jalurnya dengan kampanye iklan “Cipatakan Peluangmu” demi menjangkau pengguna lebih banyak.

Ketika kompetisi menciptakan inovasi

Dengan semakin naiknya popularitas bisnis e-commmerce, pemain yang bermunculan untuk mencicipi kuenya pun semakin ramai. Kompetisi pun menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari. Namun, John menegaskan bahwa potensi pasar e-commerce di Indonesia sangat besar, dan harusnya tak ada alasan untuk takut bermain di sektor ini. John mengatakan:

“E-commerce akan melompat jauh di tahun-tahun mendatang. […] [Nilai pasar] E-commerce sangat besar sekali, [harusnya] tidak ada alasan bagi Anda [sebagai pemain] untuk takut terhadap kompetitor selama Anda tetap kompetitif.”

Faktanya, menurut idEA, nilai pasar e-commerce Indonesia diprediksikan dapat mencapai USD 26 miliar di tahun 2016 nanti. Redwing Asia juga memprediksi bahwa Indonesia dapat menjadi pemain utama e-commerce dunia. Namun, dalam tiga tahun ke depan ini, pelaku e-commerce juga masih akan berkutat untuk membangun ekosistem menjadi lebih matang.

Memang dibutuhkan berbagai elemen untuk mendorong ekosistem e-commerce di Indonesia menjadi lebih matang. Misalnya pembangunan infrastruktur telekomunikasi yang lebih baik hingga kelonggaran aturan dari pemerintah. Tapi yang tak kalah penting juga adalah inovasi yang dihadirkan oleh para pemainnya.

Dengan pesatnya pertumbuhan industri e-commerce di Indonesia, banyak juga yang selalu membandingkannya dengan kondisi di Tiongkok dan USA. Namun, seperti yang disebut Raoul sebelumnya, Indonesia memiliki kekuatan untuk menjadi kiblat sendiri dan salah satu jalannya dapat ditempuh melalui Inovasi. John menegaskan:

“Kita [pemain e-commerce- red] harus berinovasi dengan cara sendiri, bukan hanya copy paste [merujuk pada smart locker yang juga diadopsi Alibaba]. […] [Di saat yang bersamaan] Kita juga harus mampu memberikan inovasi yang paling sesuai dengan pasar [lokal].”

William menambahkan, “Tokoh di balik majunya industri teknologi di Amerika adalah Bill Clinton yang mebuat peraturan bukan untuk memproteksi pemainnya tapi menciptakan kompetisi di antara mereka. Dia percaya ketika ada kompetisi, akan tercipta inovasi, dan pada akhirnya itu akan menguntungkan konsumen.”

Menurut Rini, industri e-commerce di Indonesia memang telah berkembang menjadi tren dalam gaya hidup. “Kini, semakin banyak paket di meja [kerja] Anda, maka Anda akan terlihat semakin keren,” ujarnya.

Meski perlahan telah menjadi tren, namun para pemain e-commerce juga harus tetap menjaga kepercayan konsumen. Etika dan kepuasan konsumen tetap harus menjadi prioritas utama, karena di era digital ini “gosip buruk” dapat menyebar dengan cepat.
Axact

MRIZKY

Hanya Seorang Penuntut Ilmu, yang ingin mengetahui ilmu tentang SOSMED, Internet Marketing, SEO, STARTUP dan Teknologi terkini, Kami membaca dari berbagai sumber, kemudian kami tulis ulang di blog ini. Kami mohon maaf jika ada yang tidak dicantumkan sumber aslinya, mungkin hanya kelalaian penulis semata, Semoga penulis pertama akan mendapatkan pahala..aamiin

Post A Comment:

0 comments: