Apa yang akan terjadi jika website atau blog Anda tidak muncul di hasil pencarian Google? Tentu Anda akan kehilangan trafik dalam jumlah besar, mengingat Google adalah mesin pencari paling populer di dunia, termasuk Indonesia. Di Indonesia sendiri, penguasaan pangsa pasar mesin pencari oleh Google sangat besar, yaitu 97,09 persen. Yahoo dan Bing hanya mendapatkan pangsa pasar sebesar masing-masing 1,66 persen dan 0,77 persen di Indonesia.


Jika Anda sudah submit URL ke Google, website atau blog Anda memang akan masuk ke indeks Google. Jadi Google bisa melakukan crawling ke website atau blog Anda dan menampilkannya di hasil pencarian.

Sayangnya, ada situasi di mana Google bisa melakukan deindex pada website Anda yang menyebabkan website Anda tidak bisa muncul di hasil pencarian Google. Artikel ini akan membahas pengertian deindex Google, penyebabnya, dan cara mengatasinya.

Apa Itu Deindex Google?

Deindex Google adalah situasi di mana website Anda sudah tidak masuk dalam indeks Google sehingga website Anda tidak akan muncul di hasil pencarian Google sama sekali. Meskipun Anda melakukan pencarian berkali-kali dengan berbagai macam kata kunci, website yang sudah terkena deindex Google tidak akan muncul di hasil pencarian.

Google melakukan deindex untuk memberikan pengalaman terbaik kepada para penggunanya sehingga mereka tidak akan membuka website yang bermasalah. Deindex Google dapat disebabkan oleh berbagai hal. Biasanya website atau blog melakukan pelanggaran terhadap guideline yang ditetapkan Google, dari rendahnya kualitas konten website sampai indikasi kode berbahaya di website.

Cara Cek Domain Deindex atau Tidak

Sebelum mengetahui penyebab domain mengalami deindex, lakukan pengecekan dengan cara mengetikkan query “site:namadomainanda.com” di pencarian Google. Anda juga dapat cek apakah artikel Anda mengalami deindex dengan query “site:namadomainanda.com/url-artikel” atau “site:namadomainanda.com judul artikel“.


Apabila muncul list beberapa artikel/ judul artikel yang dicari dari website Anda, dipastikan domain/artikel pada website Anda tidak mengalami deindex. Apabila setelah melakukan cek ternyata domain Anda tidak tampil, maka berikut beberapa penyebab domain Anda mengalami deindex.

Penyebab Deindex Google dan Cara Mengatasinya

Google telah menetapkan guideline untuk menentukan kualitas website seperti apa yang layak masuk di indeks Google. Google sangat ketat dalam penetapan guideline ini karena berkaitan dengan kualitas pengalaman penggunanya. Jika hasil pencarian menampilkan hasil pencarian website bermasalah, pengguna Google tentu akan kehilangan kepercayaan terhadap Google.

Berikut 10+ penyebab deindex Google yang harus Anda hindari. Jika Anda pernah terlanjur melakukan salah satu di antaranya, di bawah ini juga dijelaskan bagaimana cara mengatasinya atau pencegahannya:

1. Duplikat Konten

Terdapat dua jenis duplikat konten, yaitu duplikat konten dari website lain dan duplikat dari website sendiri. Duplikat konten jenis pertama adalah ketika seseorang menyalin keseluruhan konten dari sebuah website lalu menerbitkannya di websitenya sendiri. Istilah sederhananya adalah copy-paste atau copas. Google bisa mendeteksi jika sebuah konten adalah hasil salinan atau duplikat dari website lain.

Kedua, duplikat konten juga dapat terjadi ketika Anda membuat beberapa halaman di website dengan konten yang sama persis. Terkadang hal ini terjadi ketika Anda ingin mengupdate konten menggunakan URL baru. Tentu Anda tidak bisa menggunakan dua URL berbeda untuk satu konten yang sama.

Cara Mengatasi:

Solusi dari duplikat konten jenis kedua adalah dengan melakukan redirect 301. Redirect 301 akan mengarahkan URL lama ke URL baru dan memberikan sinyal kepada bot untuk melakukan crawling ke URL baru.

Anda bisa dengan mudah melakukan redirect 301 dengan menggunakan bantuan plugin. Beberapa plugin yang dapat Anda gunakan adalah Yoast SEO Premium atau Redirection.

Untuk duplikat konten dari website lain adalah praktik yang harus dihindari sejak awal pembuatan website atau blog. Selain memberikan sinyal buruk kepada Google, Anda juga membangun reputasi buruk jika mencuri konten orang lain.

2. Konten Terlalu Sedikit

Konten yang terlalu sedikit bisa menyebabkan deindex pada website atau blog Anda. Mengapa? Karena Google ingin memberikan jawaban paling lengkap dan solutif kepada para penggunanya. Google menganggap konten yang terlalu sedikit sebagai konten dengan kualitas rendah. Menurut Backlink.io, konten yang ideal setidaknya terdiri dari sekitar 1890 kata.

Cara Mengatasi:

Jika Anda memiliki beberapa konten yang terlalu pendek, sebaiknya tambahkan lagi isi konten Anda selengkap mungkin. Anda bisa memperkaya isi konten Anda dengan menggunakan foto, ilustrasi, infografik, atau bahkan video. Anda bisa mengikuti langkah-langkah cara menulis artikel SEO friendly di artikel ini.

3. Keyword Stuffing

Keyword stuffing adalah praktik SEO lawas yang sudah tidak layak diterapkan lagi. Sepuluh tahun yang lalu teknik SEO ini mungkin masih efektif. Anda hanya perlu menulis artikel 300 kata dan menjejalinya dengan focus keyword secara tidak wajar dan bisa mendapatkan ranking tinggi di hasil pencarian.

Kini Google lebih pintar dalam menilai sebuah konten, salah satunya adalah mengecek apakah sebuah konten dijejali keyword secara wajar atau tidak. Konten yang dijejali keyword dengan tidak wajar akan mendapatkan nilai tidak baik di Google, bahkan kemungkinan terburuknya adalah terkena deindex.

Cara Mengatasi:

Orang-orang menggunakan berbagai macam variasi kata kunci untuk mencari topik tertentu. Anda perlu mengetahui variasi kata kunci tersebut agar artikel Anda menjadi lebih manusiawi. Anda dapat menemukan berbagai macam variasi kata kunci menggunakan LSI Keyword. LSI adalah kependekan dari Latent Semantic Indexing (Indeksasi Semantik Laten).

LSI Keyword adalah kumpulan kata kunci yang ditemukan di satu topik tertentu dan saling berhubungan secara semantik. Untuk menemukan variasi kata kunci tersebut, Anda bisa menggunakan layanan seperti LSIGraph atau LSIKeywords.

4. Link Tidak Natural

Link building adalah salah satu strategi terpenting dalam SEO. Namun, bukan berarti Anda bisa mengakuisisi backlink sembarangan. Anda perlu mempertimbangkan kualitas website, reputasi, dan indikator lainnya dalam memilih website untuk dijadikan sumber backlink.

Mengakuisisi website sebagai sumber backlink yang salah bisa berakibat fatal. Alih-alih mendapatkan backlink untuk meningkatkan kualitas SEO, website Anda bisa terkena deindex dari Google.


Website seperti apa yang sebaiknya Anda hindari untuk dijadikan sumber backlink? Beberapa jenis website yang perlu Anda hindari adalah private blog network (PBN), situs link farming, dan direktori link.

Cara Mengatasi:

Anda bisa mengecek website-website yang sudah memberikan backlink ke website Anda menggunakan Google Search Console. Jika Anda menemukan indikasi website yang menunjukkan kualitas buruk, sebaiknya segera lakukan disavow sebelum menyebabkan deindex Google pada website Anda.

5. Cloaking

Secara sederhana, cloaking adalah mengarahkan pengguna Google ke konten atau URL yang berbeda dari yang ditampilkan di hasil pencarian. Misalnya, Anda punya blog kuliner, tetapi ketika orang mengklik blog Anda dari hasil pencarian mereka diarahkan ke situs pornografi.

Cloaking biasanya disebabkan oleh serangan hacker. Hacker menggunakan cloaking pada website bertrafik tinggi untuk mengarahkan pengunjung ke situs yang mereka inginkan, biasanya situs spam.

Cara Mengatasi:

Lakukan scanning pada seluruh halaman website menggunakan Google Search Console. Dengan Google Search Console, Anda bisa menemukan halaman bermasalah kemudian membetulkannya.

Sebagai langkah antisipasi, Anda bisa memasang plugin keamanan WordPress seperti WordFence, Shield, dan SecuPress. Selain itu, terapkan berbagai langkah pengamanan WordPress dengan mengikuti panduannya di artikel cara mengamankan WordPress.

6. Struktur Markup yang Misleading

Selain menampilkan judul konten dan meta deskripsi, Google juga memungkinkan Anda untuk menambahkan struktur markup yang berisi harga, review, atau rating seperti di bawah ini:

Struktur markup dan konten yang berkaitan harus sama isinya. Jika struktur markup mengarahkan ke halaman website yang jauh berbeda, Google akan menganggap struktur markup Anda misleading. Kemungkinan terburuknya adalah website Anda terkena deindex Google.

Cara Mengatasi:

Google telah memberikan panduan bagaimana membuat struktur markup yang baik dan benar. Berikut adalah panduan membuat struktur markup dari Google

7. Domain Kedaluwarsa

Apabila domain Anda sudah kedaluwarsa dan Anda tidak melakukan pembaruan, secara otomatis domain Anda akan terhapus dari indeks Google.

Cara Mengatasi:

Sebaiknya buat pengingat di kalender untuk memperbarui domain agar Anda tidak lupa. Biasanya penyedia domain juga akan memberikan peringatan kepada Anda untuk melakukan pembaruan domain. Di Niagahoster, Anda akan diingatkan untuk memperbarui domain beberapa minggu sebelum domain kedaluwarsa.

8. Server Down  

Server yang down dalam waktu lama juga bisa menyebabkan website Anda terkena deindex dari Google. Hal ini terjadi jika ketika server down kemudian aktif kembali, tetapi tidak bisa melakukan restore terhadap semua data website Anda. Jadi website Anda akan mengalami delisted atau bahkan deindex.

Cara Mengatasi:

Anda bisa menginstall website uptime monitoring agar mendapatkan pemberitahuan setiap kali server hosting Anda mengalami down. Beberapa tool website uptime monitoring yang dapat Anda gunakan adalah Uptime Robot, Pingdom, dan Uptime.

Sebaiknya Anda juga menggunakan layanan hosting terbaik untuk mencegah terjadinya server down. Niagahoster adalah penyedia hosting dengan tingkat uptime terbaik, yaitu 99,98 persen per tahun.

9. Algoritma Google Berubah

Perubahan algoritma Google juga bisa menyebabkan website Anda terkena deindex. Anda bisa terkena deindex jika melanggar algoritma terbaru dari Google. Misalnya, stuffing keyword masih berlaku 10 tahun lalu, tetapi kini praktik semacam itu sudah tidak lagi berlaku, bahkan bertentangan dengan algoritma terbaru.

Cara Mengatasi:

Jika Anda menemukan konten di website Anda yang masih belum mengikuti algoritma terbaru Google, segera ubah konten sesuai dengan update algoritma Google terbaru.

Anda harus selalu update soal algoritma terbaru Google. Agar tidak ketinggalan update terbaru mengenai SEO dan perkembangannya, Anda bisa subscribe blog-blog yang membahas SEO seperti Search Engine Journal, Blog Alexa, dan Blog Niagahoster.

10. Salah Konfigurasi

Di salah satu pengaturan Google, terdapat konfigurasi yang memungkinkan Anda untuk menyembunyikan website dari crawling mesin pencari. Pengaturan ini biasanya digunakan para developer untuk membuat website percobaan tanpa diganggu adanya trafik dari hasil pencarian.

Ketika menemukan bahwa website Anda masih deindex, Anda mungkin bisa mengecek konfigurasi ini terlebih dahulu. Mungkin Anda atau administrator lain lupa menonaktifkan konfigurasi ini.

Cara Mengatasi:

Untuk mengatasi masalah ini cukup mudah. Buka dashboard WordPress kemudian pilih menu Setting > Reading. Di menu paling bawah Anda akan menemukan pengaturan seperti ini:

Pastikan untuk tidak memberikan ceklis di bagian Search Engine Visibility.

11. Website Mengandung Malware

Penyebab website terkena deindex yang terakhir adalah kemungkinan adanya distribusi malware dalam website. Jika ada hacker yang meretas website Anda, mereka bisa menanamkan skrip yang menyebarkan software berbahaya kepada pengunjung website.

Tentu Google tidak akan membiarkan penggunanya diarahkan ke website yang membahayakan mereka. Pengunjung website akan mendapatkan peringatan seperti di bawah ini ketika mengunjungi website terindikasi malware:

Cara Mengatasi:
Ketika menemukan website Anda mengalami hal ini, identifikasi terlebih dahulu apa yang menjadi penyebabnya. Terdapat berbagai macam serangan hack dan penanganan setiap serangannya berbeda.
Axact

MRIZKY

Hanya Seorang Penuntut Ilmu, yang ingin mengetahui ilmu tentang SOSMED, Internet Marketing, SEO, STARTUP dan Teknologi terkini, Kami membaca dari berbagai sumber, kemudian kami tulis ulang di blog ini. Kami mohon maaf jika ada yang tidak dicantumkan sumber aslinya, mungkin hanya kelalaian penulis semata, Semoga penulis pertama akan mendapatkan pahala..aamiin

Post A Comment:

0 comments: