Kenali Perbedaan Generasi X, Y, dan Z dalam Berbelanja - Kemunculan smartphone dan pesatnya kemajuan teknologi internet telah membawa perubahan nyata dalam keseharian banyak orang, yang tanpa disadari hal ini berdampak pada perilaku seseorang. Perhatikan beda generasi yang melek teknologi (rata-rata berusia 20-30-an tahun) dan yang baru melek teknologi (rata-rata berusia di atas 40 tahun). Contoh sederhana, amati perbedaan cara mengakses informasi terkini semacam berita, generasi 20-30-an tahun yang lebih familier dengan teknologi sudah pasti lebih suka mencari tahu lewat smartphone. Sementara generasi di atas 40 tahun jarang sekali mengaksesnya dari smartphone. Mereka cenderung menyukai dan memilih media cetak sebagai sumber informasi.
Kenali Perbedaan Generasi X, Y, dan Z dalam Berbelanja
Kenali Perbedaan Generasi X, Y, dan Z dalam Berbelanja

Perbedaan yang mencolok itulah yang kemudian memunculkan penggolongan generasi. Pernahkah Anda mendengar sebelumnya atau membaca informasi soal Generasi X, Y, dan Z? Atau mendengar istilah generasi millenial? Ya, faktanya, pembagian generasi ini secara umum lebih didasarkan pada usia. Dari ilustrasi di atas jelas tampak beda usia 20-30-an dengan di atas 40 tahun dalam akses informasi meskipun sama-sama menggunakan smartphone. Bahkan, perbedaannya sampai ke urusan yang hampir semua orang lakukan, yaitu belanja. Mau tahu seperti apa bedanya? Berikut ini ulasannya.

Generasi X, Y, dan Z. Apa Bedanya?


Penamaan pada generasi-generasi yang ada dan sebelumnya berawal dari lahirnya teori generasi (generation theory) yang muncul di Amerika. Para pencipta teori menarik kesimpulan berupa penggolongan generasi-generasi yang secara garis besar didasarkan pada tahun kelahirannya. Jika mengacu pada demografi dari generasi-generasi tersebut, ada lima generasi di dunia yang masih eksis.

Yang pertama adalah Baby Boomer Generation yang lahir pada rentang waktu 1946-1954. Dinamakan demikian karena pada rentang waktu tersebut terjadi ledakan kelahiran atau banyaknya kelahiran. Generasi ini dikenal akan sikapnya yang menentang nilai-nilai tradisional. Memiliki sifat yang orientasinya pada misi (mission oriented) dan layanan (service oriented), serta mau bekerja ekstra. Generasi setelahnya adalah Generation Jones yang lahir antara tahun 1955 dan 1965. Dikenal sebagai orang memiliki sifat cemas juga menyenangkan. Cenderung tidak menyukai status quo atau hal yang monoton.

Pasca Baby Boomer dan Jones, muncul tiga generasi lainnya yang punya kekhasan masing-masing, yaitu:

1. Generasi X atau Generation X (kelahiran 1966-1976)

Dipandang sebagai generasi yang mandiri, cerdas, dan kreatif. Kata X pada generasi ini dipopulerkan novel yang berjudul Generation X: Tales for an Accelerated Culture yang ditulis Douglas Coupland. Semangat “Do It Yourself” berperan dalam pembentukan cara pandang dan karakter mereka. Mendapatkan pendidikan tinggi dan sanggup menyelesaikan tugas dengan baik. Namun, generasi ini bisa dibilang golongan bermental konsumerisme (consumer mentality).

2. Generasi Y atau Millenial Generation (kelahiran 1977-1994)

Rasa percaya diri, optimistis, ekspresif, bebas, dan menyukai tantangan tercermin dari generasi ini. Terbuka terhadap hal-hal baru dan selalu ingin tampil beda dari yang lain. Mereka benar-benar menggunakan kreativitasnya untuk menciptakan sesuatu yang baru. Menyukai suasana kerja yang santai dan mampu mengerjakan beberapa hal secara bersamaan (multitasking). Mereka termasuk peduli terhadap gaya (style) dan cepat beradaptasi dengan teknologi. Sayangnya, generasi ini gampang bosan dan loyalitasnya dalam urusan pekerjaan terbilang kurang.

3. Generasi Z (kelahiran 1995-2012)

Lahir saat penggunaan komputer, internet, dan smartphone sedang marak. Tak heran jika generasi ini begitu akrab dengan penggunaan teknologi digital serta media sosial. Generasi ini memiliki pemikiran yang terbuka (open-minded). Spontan dalam mengungkapkan yang dirasakan dan dipikirkan. Mereka adalah generasi yang paling terhubung, terdidik, dan termutakhir.

Jelas terlihat bukan perbedaan antar generasi yang disebutkan di atas? Mulai dari sifat sampai respons terhadap perubahan tidaklah sama. Seperti yang sudah dikemukakan sebelumnya, untuk urusan belanja pun, juga tidak sama satu sama lain. Yuk, cari tahu lebih jauh lewat ulasan di bawah ini.

Perilaku Belanja: Generasi X vs Generasi Y vs Generasi Z


Bicara soal yang satu ini, barang kali sudah ada yang bisa menyimpulkan Generasi Baby Boomer dan Jones yang pada saat ini adalah mereka yang masuk usia pensiun akan berbelanja dengan mendatangi toko atau pasar. Kemudian di sana mereka melakukan tawar-menawar (bila memungkinkan). Wajar saja bila beranggapan demikian karena perilaku tersebut tampak dari orang tua kita sendiri yang masih mempertahankan cara-cara konvensional. Lalu, bagaimana dengan generasi-generasi setelahnya? Inilah perbedaannya.

1. Mencari Barang atau Produk atau Jasa yang Ingin Dibeli

Adanya smartphone/gadget tidak lantas menjadikan mereka sama sepenuhnya dalam berbelanja. Generasi Y dan Generasi Z betul-betul memanfaatkan keberadaan smartphone/gadget untuk mendapatkan barang atau produk atau jasa yang mereka inginkan. Sementara Generasi X berada di bawah kedua generasi tersebut dalam mencari barang atau produk atau jasa. Sekalipun Generasi X mencarinya lewat smartphone/gadget, tetapi transaksi jual belinya dilakukan secara offline atau langsung ke penjual atau toko atau pasar. Dengan kata lain, pencarian mereka lewat smartphone/gadget sekadar untuk mendapatkan informasi.

2. Media Sosial atau Mesin Pencari

Media sosial semisal Facebook, Instagram, atau Twitter cenderung jadi sarana untuk menemukan barang/produk atau jasa yang dicari Generasi Y dan Z. Dibandingkan dengan kedua generasi di bawahnya, Generasi X lebih menyukai mesin pencari semisal Google sebagai sarana pencarian. Meskipun begitu, bukan berarti Generasi Y dan Z tidak memanfaatkan mesin pencarian atau Generasi X mengabaikan media sosial sebagai saluran mendapatkan yang diinginkan. Mereka tetap memanfaatkannya. Hanya intensitasnya pencariannya berbeda-beda tiap-tiap generasi.

3. Motivasi Belanja

Komunitas dan harga menjadi ukuran Generasi Y untuk berbelanja. Motivasi belanja timbul ketika suatu barang/produk dipakai teman-teman komunitasnya. Soal harga mereka begitu sensitif. Generasi Y akan mencari yang menurutnya harganya paling terjangkau. Sementara Generasi X berani membayar harga mahal asalkan berkualitas atau sebanding dengan harganya. Kebanyakan dari mereka kurang begitu peduli dengan tren yang sedang terjadi. Untuk Generasi Z, rata-rata dari mereka menyukai produk yang menurut mereka keren.

4. Konsistensi dan Loyalitas pada Merek

Bila melakukan perbandingan antara Generasi X dan Y, konsistensi dan loyalitas terhadap barang-barang bermerk lebih besar didapat dari Generasi Y. Bagi Generasi X, merek bukanlah hal utama. Pelayanan yang luar biasa, kejujuran, dan komunikasi yang baik sudah lebih dari cukup untuk mereka agar mau membeli suatu produk. Sementara Generasi Z malah meminta loyalitas dari produsen barang-barang bermerek yang mereka gunakan. Mereka ingin produsen produk bermerk bisa memberikan lebih dari sekadar yang generasi ini harapkan.

Cermat Atur Uang Saat Belanja

Termasuk generasi yang mana Anda? Ya, semuanya memiliki perbedaan masing-masing. Generasi X tak peduli merek, yang penting punya kualitas. Sementara Generasi Y menomorsatukan merek (brand) asalkan harganya terjangkau. Lain lagi dengan Generasi Z yang berharap lebih dari apa yang dipakainya. Yang terpenting adalah upayakan berbelanja sesuai kebutuhan, bukan keinginan. Pelajari cara mengatur uang dengan baik agar kas uang tetap sehat, tidak terlilit utang, dan tetap bahagia menikmati hidup ini.

Axact

MRIZKY

Hanya Seorang Penuntut Ilmu, yang ingin mengetahui ilmu tentang SOSMED, Internet Marketing, SEO, STARTUP dan Teknologi terkini, Kami membaca dari berbagai sumber, kemudian kami tulis ulang di blog ini. Kami mohon maaf jika ada yang tidak dicantumkan sumber aslinya, mungkin hanya kelalaian penulis semata, Semoga penulis pertama akan mendapatkan pahala..aamiin

Post A Comment:

0 comments: