Jadi Ajang Pamer dan Gibah? Ini Cara Nolak Ajakan Bukber Tanpa Dicap Sombong - Ramadan tiba, siapa yang sudah dapat undangan buka puasa bersama alias bukber? Jika sudah, apakah kamu akan datang ke semua acara bukber? Sebenarnya kamu bisa banget menolak ajakan bukber bila dirasa tidak ada manfaatnya.


Kalau sudah masuk bulan puasa, siap-siap grup whatsapp teman SD, SMP, SMA, kuliah, sampai grup kantor dulu dan sekarang penuh dengan obrolan agenda bukber. Tujuan awalnya sih untuk menyambung atau mempererat tali silaturahmi dan ajang reuni atau kangen-kangenan. Tapi kadang kenyataannya berbeda.

Begitu pas hari H, bertemu dengan teman sejawat yang dulunya masih unyu-unyu, penampilan dekil, kumel, badan kurus atau gemuk, berubah menjadi lebih terawat, yang cowok gantengan, yang cewek cantikan, pasti jadi bahan omongan. Kemudian merembet ke soal karier, gaya hidup, bahkan sampai kehidupan pribadi.

Apalagi kalau salah satu teman yang dulunya femes banget di sekolah atau kampus, terus konfirmasi hadir di acara bukber. Ini sih bisa langsung jadi topik utama di acara bukber.

Nah kan, ajang bukber jadi melenceng dari tujuan sebenarnya. Akhirnya cuma jadi ajang gosip, gibah, nyinyir, julit, dan pamer. Bukannya dapat pahala, malah bikin dosa. Tadinya mood ingin ketemu teman-teman satu angkatan menggebu, tiba-tiba hilang begitu saja mendengar celotehan enggak penting. Apalagi kalau kamu jadi korban mereka, makin bete deh.

Bukber Jadi Ajang Silaturahmi atau Pamer dan Gosip?


Namanya ngabuburit di bulan puasa, sejatinya kan melakukan hal-hal positif, termasuk menghadiri undangan bukber untuk silaturahmi. Tapi faktanya silaturahminya cuma 20%, ngegosip, nyinyir, sampai pamernya 80%. Misalnya saja ada teman yang pamer kariernya saat acara bukber:

“Eh, lu kerja di mana?” tanya si A
“Kerja jadi admin di perusahaan logistik,” jawab B
“Nah lu sendiri di mana?” B melanjutkan.
“Ya ampun lu cuma jadi admin. Kan lu dulu pinter banget pas kuliah. IPK 3.5 terus,” kata si A mulai dengan nyinyirannya.
“Kalau gue sih manajer di e-commerce Padahal IPK gue di bawah lu, tapi enggak menjamin ya,” tutur si B dengan nada sombong.
“Makanya gue sibuk banget nih, cuma sebentar doang gue di sini, karena harus ke luar kota malam ini,” si B menambahkan.
Belum lagi terdengar gibahan dari sudut lain di acara bukber. “Kalian pada tahu enggak, itu loh si C kan udah cerai sama suaminya. Denger-denger suaminya selingkuh gitu. Kasihan ya, padahal C kan cantik.” Atau bisik-bisik soal fisik seorang teman “Si D kan dulu gemuk, sekarang kurus karena sedot lemak. Duitnya banyak banget ya, horang kaya mah bebas.”

Itu baru segelintir contoh percakapan yang menghiasi acara bukber. Mungkin kamu punya pengalaman berbeda. Balik lagi sih, tergantung masing-masing personal. Tapi pasti ada saja orang-orang yang punya tujuan berbeda ketika datang ke acara bukber. Mungkin sudah bawaannya begitu, asal kamu jangan ikut-ikutan.

Tips Menolak Acara Bukber Tanpa Dicap Sombong

Jika kamu khawatir terseret atau terjebak dalam bukber yang justru akan merusak pahala puasamu, lebih baik enggak usah datang. Sah-sah saja, itu kan hak kamu. Tapi alangkah baiknya menolak ikut acara bukber dengan santun tanpa menyakiti hati kawan. Begini tipsnya:

1. Pikirkan Dulu Sebelum Menolak


Hal pertama yang harus kamu lakukan, jangan langsung menolak mentah-mentah undangan bukber. Hargai panitia yang sudah mengajak, yang notabene-nya adalah temanmu sendiri. Kalau langsung mengatakan tidak datang, kamu bisa dicap sombong. Pikirkan saja dulu dengan mengatakan alasannya. Misalnya saja “belum tahu bisa datang atau tidak, khawatir disuruh lembur kerja oleh bos,” atau alasan lain.

2. Menolak dengan Alasan yang Tepat


Ketika hari H sudah semakin dekat, beri kabar kepada panitia yang mengundang bahwa kamu tidak bisa menghadiri acara bukber. Dalam hal ini, kamu perlu memberikan alasan yang tepat. Bisa yang terkait dengan alasanmu sebelumnya. “Gue absen dulu bukber tahun ini ya, karena gue disuruh lembur sama bos.” Jika temanmu tetap memaksa, katakan saja dengan nada bercanda, “gue kan cuma kuli, enggak bisa nolak atasan.”

3. Gunakan Kata “Maaf” saat Menolak


Agar tidak menyinggung dan menyakiti hati panitia, kamu dapat menolak dengan menggunakan kata “maaf”. “Maaf ya gue gak bisa datang, karena disuruh lembur kerja.” Kata “maaf” tersebut menunjukkan bahwa kamu menghargai teman yang sudah mengundang bukber. Terkesan pula, kamu sebetulnya ingin ikut bukber, tapi karena terhalang pekerjaan, maka kamu tidak bisa hadir. Dengan begitu, temanmu akan memakluminya.

4. Bisa Usulkan Pertemuan Setelah Lebaran


Jika masih punya perasaan enggak enak hati, kamu bisa mengusulkan kepada temanmu untuk menggelar pertemuan lagi setelah Lebaran atau halal bihalal. Bila temanmu tidak setuju atau enggan, ya sudah yang penting kamu sudah menawarkan niat baikmu. Toh enggak rugi juga enggak ketemu dengan teman-teman yang kerjaannya tukang nyinyir, gosip, julit, pamer, sudah hidupnya kayak yang paling benar saja.

5. Jangan Kasih Komen Lebay


Setelah acara bukber selesai, pasti deh foto-foto bertebaran di grup chat whatsapp ataupun media sosial, di mana kamu dan teman-teman lamamu terhubung. Keep calm saja, enggak usah komen berlebihan dan bisa memancing pertengkaran di dunia maya. Misalnya “enggak ada gue kurang rame,” atau “duh senangnya.” Jika enggak penting-penting banget, mending diam deh atau cukup katakan hal baik, seperti “semoga ada kesempatan bertemu di tahun depan,” maka teman pun akan mengamininya.

Jadikan Bukber Murni Ajang Silaturahmi dan Meraih Berkah Ramadan

Silaturahmi itu bisa memperpanjang umur dan menambah rezeki loh. Di bulan puasa ini, salah satu cara mempererat silaturahmi bisa lewat acara bukber. Jauhi ria dan bergosip, maka bukbermu akan menjadi momen paling indah untuk menyambung tali silaturahmi sehingga puasamu lebih bermakna, mendapatkan keberkahan dari Allah SWT.

Axact

MRIZKY

Hanya Seorang Penuntut Ilmu, yang ingin mengetahui ilmu tentang SOSMED, Internet Marketing, SEO, STARTUP dan Teknologi terkini, Kami membaca dari berbagai sumber, kemudian kami tulis ulang di blog ini. Kami mohon maaf jika ada yang tidak dicantumkan sumber aslinya, mungkin hanya kelalaian penulis semata, Semoga penulis pertama akan mendapatkan pahala..aamiin

Post A Comment:

0 comments: